Unggas: Belajar dari Brasil

Diambil dari: Kompas, 4 Sep 2013

Tertinggal sekitar 50 tahun dalam mengawali pengembangan industri unggas, tidak menjadikan Brasil kalah dari Amerika Serikat. Dalam hal produksi dan konsumsi, Brasil memeang sedikit tertinggal.

Namun, dalam hal ekspor daging ayam, Brasil boleh berbangga karena kini mampu menjadi eksportir daging ayam nomor satu dunia. Produk unggas Brasil tersebar di 150 negara.

Pencapaian Brasil dalam pengembangan bisnis unggas seperti sekarang bukan tanpa kerja keras. Sejak awal, Brasil menyadari bahwa sektor pertanian, termasuk di dalamnya peternakan unggas, akan bisa diandalkan.

Dari aspek geografis, alam di Brasil sangat mendukung untuk kegiatan usaha perunggasan. Selain ketersediaan lahan dan air yang memadai, juga kondisi iklim yang sesuai sehingga bisa mendukung industri unggas mereka. Dengan produksi jagung dan kedelai yang besar sebagai bahan baku pakan unggas, menjadikan fundamental bisnis unggas Brasil lebih kuat.

Menyadari pentingnya industri unggas bagi perekonomian mereka dan peran teknologi dalam mendorong pertumbuhan industri unggas, Brasil pun tak segan membangun pusat penelitian perunggasan dengan ratusan pakar di dalamnya. Lebih dari 400 jenis temuan terkait teknologi perunggasan dihasilkan untuk mendukung bisnis unggas mereka.

Diawali tahun 1960-an, bisnis unggas Brasil terus tumbuh. Tahun 1970-an, Brasil menyadari pentingnya pasar di negara-negara di kawasan Timur Tengah. Brasil sangat paham bahwa alam di wilayah Timur Tengah kurang mendukung pengembangan industri unggas. Namun, tidak bisa dielakkan, konsumsi daging ayam di sana bakal terus meningkat. Apalagi pendapatan per kapita mereka juga tinggi.

Keyakinan Brasil pada industri unggas kian kuat karena unggas mampu menjadi sumber protein hewani yang murah dibandingkan dengan ikan dan daging sapi. Mereka yakin produk unggas perlahan tetapi pasti akan menjadi sumber protein utama di negara-negara lain. Daya saing menjadi kunci untuk memenangi persaingan. Tahun 2012, produksi unggas Brasil mencapai 12,65 juta ton dan 3,92 juta ton diekspor.

Yang juga patut menjadi teladan, yakni kesadaran menjadikan industri unggas sebagai kekuatan ekonomi Brasil. Tidak semata di kalangan swasta, tetapi juga pemerintah. Pemerintah Brasil menyediakan sarana transportasi, logistik, infrastruktur, dan riset yang memadai. Keinginan para pelaku usaha dalam mengembangkan industri unggas juga selalu mendapat respons baik dari pemerintah mereka.

Berbagai kebijakan Pemerintah Brasil banyak manfaatnya. Apalagi industri unggas menyerap 3,5 juta tenaga kerja langsung. Belum lagi dampak positif berupa peningkatan dan pemerataan pendapatan.

Di Brasil, pola budidaya unggas 95 persen mengadopsi sistem budidaya terintegrasi. Kerjasama saling menguntungkan antara perusahaan dan petani. Skala usaha menjadi lebih besar sehingga biaya produksi bisa ditekan.

Kombinasi kerja sama yang baik antara pemerintah, pelaku usaha, dan peternak menjadikan industri unggas Brasil mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.

Indonesia patut berkaca dan belajar dari Brasil.

(HERMAS E.PRABOWO dari SAO PAULO)