Akses Perbankan

Diambil dari: Kompas , Rabu 4 September 2013.

Usaha makin kecil mati. Demikian seloroh soal kepanjangan dari UMKM. Seloroh yang menggambarkan beratnya beban pelaku usaha mikro menjaga keberlangsungan usaha di tengah beragam kendala yang dihadapi.

Ketua Umum Asosiasi Industri Mebel Indonesia Ambar Tjahyono mengusulkan penamaan baru yang konotasinya lebih bernuansa positif. Sebut saja UMKM sebagai “usaha makin gede”.

Kegemasan ini karena perhatian pada UMKM relatif minim dibandingkan dengan jumlah dan peran mereka dalam perekonomian negara ini. Jumlah usaha mikro di Indonesia mencapai 54,559 juta unit atau 98,2 persen dari unit usaja di Indonesia. Namun, dukungan bagi UMKM, terutama dari sisi permodalan, praktis minim.

Dari data olahan Bank Indonesia (BI) dan Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) tahun 2012, pembiayaan UMKM di Indonesia hanya 20,1 persen dari total kredit perbankan di negeri ini. Dari total pembiayaan Rp 612 triliun, porsi pembiayaan untuk usaha mikro hanya 20,7 persen.

Menarik mencermati pernyataan Direktur Eksekutif Departemen Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM BI Eni V Panggabean bahwa evolusi pembiayaan mikro harus dimulai dari pengenalan UMKM terhadap bank. Penelitian Bank Dunia tahun 2011, hanya 20 persen orang dewasa di Indonesia yang mempunyai rekening di lembaga keuangan formal.

BI kini mencoba meluncurkan program TabunganKU. Program ini bertujuan memperkenalkan lembaga perbankan kepada masyarakat di negeri ini dengan memiliki rekening di bank. Program menabung di bank yang tidak dibebani biaya administrasi. Bagi pelaku usaha mikro, uang sepeser pun harus dihemat, yang penting kenal bank.

Namun, sekali lagi bukan semata pembiayaan bank yang akan menyelesaikan permasalahan UMKM. Mereka juga membutuhkan pendampingan. Memberi kail memang perlu, tapi juga harus didampingi agar mampu memegang kailnya supaya tidak lepas.
Berkaitan dengan upaya memperkenalkan bank, BI kini menerapkan program branchless banking (bank tanpa kantor cabang) yang masih dalam percontohan. Proyek ini baru diikuti lima bank. Dengan kehadiran lebih dari 260 juta ponsel di masyarakat Indonesia saat ini, program ini bakal kian efektif.

Masyarakat tidak perlu datang ke bank, tetapi cukup ke unit layanan jasa keuangan untuk mendapat dana. Bank juga mendapat untung. Sebuah transaksi lewat kantor cabang membutuhkan biaya Rp 2.300, melalui anjungan tunai mandiri hanya Rp 600 per transaksi, dan melalui e-banking Rp 300 per transaksi. Dengan branchless, beban biaya yang lebih ringan jelas akan membuat masyarakat bisa lebih ringan dalam biaya modal karena cukup ke unit layanan keuangan, seperti agen ponsel dan toko kelontong.

Kemudahan prosedur dalam mengakses sumber permodalan merupakan salah satu harapan pengusaha mikro yang setiap hari berjibaku menjaga usaha. Apalagi informasi soal harga bisa diakses di sana.

(C ANTO SAPTOWALYONO)